Link and match antara lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan industri, seperti apa pengaruhnya?Pendidikan di Indonesia akan selalu menjadi tema pembicaraan tak lekang waktu, karena siapapun kita, dimanapun kita berada, kita membutuhkan bekal pengetahuan dan keahlian, baik yang kita sadari maupun yang tidak disadari. Kedua bekal tersebut kita dapatkan dari proses pendidikan sebelumnya, bahkan apa yang kita lakukan setiap hari seperti berjalan dan berbicara merupakan hasil dari proses pendidikan kita sejak pertama kali kita menyapa dunia ini.

Isu pendidikan di Indonesia biasanya akan muncul ke permukaan apabila dampak yang terjadi di masyarakat mulai terlihat dan dirasakan, baik dampak positif maupun negatif. Umumnya kedua sisi dampak tersebut datang dan diukur dari Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Kita patut bersyukur, baik pendidikan maupun dunia usaha dan industri di negara kita terus bergerak ke arah yang lebih baik. Meskipun demikian, kecenderungan yang terjadi sejak beberapa dekade menunjukkan adanya jarak serta relevansi yang cukup jauh antara perguruan tinggi dan industri, benarkah demikian?

Mencoba menilik pada masa ketika saya masih kuliah di tahun 2000-an dengan jurusan ilmu komputer/teknik informatika, jika dibandingkan dengan ketersediaan dunia industri IT saat itu, perbedaan tersebut belum begitu terlihat jelas. Pasalnya, pada masa itu belum cukup banyak perusahaan IT yang didirikan dan juga perkembangan teknologi informasi belum sepesat sekarang. 

Namun setelah memasuki tahun 2010-an saya terlibat langsung dalam proses rekrutmen programmer di perusahaan tempat saya bekerja, di mana saya mulai merasakan betapa sulitnya mencari lulusan jurusan IT yang dibutuhkan, khususnya sebagai programmer maupun database engineer. Saya pun bertanya-tanya apakah standar perusahaan yang terlalu tinggi? Saya kira tidak juga. Atau kualitas lulusan sarjana dan diploma yang rendah? Rasanya juga tidak, karena saya percaya zaman saya kuliah justru tidak lebih baik dari itu. Lalu dimana letak permasalahannya?

Link and Match
Illustrasi 3D Rendering Element by Freepik

Dahulu, Link and Match Belum Menjadi Perhatian

Jika dilihat lebih jauh, akar masalahnya adalah adanya ketidaksesuaian atau ketidak relevanan (link and match) antara kemampuan lulusan dan kebutuhan dunia industri. Hal ini diperparah oleh pemahaman para lulusan terhadap bidang yang ditekuni dan persepsi mereka terhadap bobot pekerjaan yang akan diselesaikan saat bekerja. 

Sebagai contoh, para lulusan IT yang melamar sebagai web programmer, mereka mengandalkan IPK yang tinggi dan tugas akhir yang terkesan menarik. Namun setelah diuji dengan tes programming yang relatif sederhana, mereka tidak dapat mengerjakannya, bahkan dengan diberikan kelonggaran waktu serta diperbolehkan browsing tag coding-nya dengan catatan algoritma tersebut mereka yang mengerjakannya sendiri, dan dengan itu pun mereka belum mampu. Lalu kenapa bisa terjadi lulusan yang tidak mempunyai kemampuan yang cukup dalam bidang logika pemrograman dan algoritma, dengan percaya dirinya melamar sebagai programmer?

Tunggu dulu, kita jangan terburu-buru membuat kesimpulan. Sebenarnya bukan program studinya yang tidak bermutu, bukan pula kampusnya yang tidak berkualitas, serta bukan pula dosennya yang tidak pandai membimbing mahasiswa. Namun yang menjadi permasalahan adalah kerelevansian kurikulum, metode pembelajaran, dan sejauh mana program studi, dosen, serta mahasiswa dalam menerapkannya pada masa perkuliahan. Jika mahasiswa tidak memahami apa saja yang harus mereka pelajari dan kuasai, kemudian dengan pengetahuan serta kemampuan yang harus dikuasai tersebut mereka juga tidak mengetahui akan menjadi apa mereka nantinya setelah terjun di dunia kerja, bagaimana mungkin setelah lulus mereka dapat relevan dengan dunia industri?

Seperti yang telah saya contohkan di atas, mahasiswa tidak memahami bahwa setelah lulus nanti salah satu yang dapat mereka pilih adalah sebagai programmer, sehingga saat kuliah mereka hanya sekedar mengikuti saja pelajaran saja, yang penting mendapatkan nilai yang baik, tanpa memahami skill apa saja yang utama untuk mereka asah dan kembangkan, yang pada akhirnya mereka mencoba melamar dengan keyakinan bahwa mereka bisa bekerja sebagai programmer. Dengan fakta demikian, maka terjadilah gap antara dunia pendidikan dan dunia industri.

Solusi dari Gap yang Terjadi

Masalah ini sebenarnya sudah lama dan sering menjadi topik perbincangan di Indonesia. Sudah banyak pula upaya pemerintah dalam mengatasi hal tersebut. Kita tentu sering mendengar pergantian kurikulum, baik pada tingkat sekolah maupun pada perguruan tinggi. Semua itu tidak lain adalah untuk memberi solusi atas masalah kurangnya Link and Match (hubungan dan kecocokan) atau kerelevansian antara pendidikan tinggi dan industri yang membutuhkan.

Dari berbagai upaya yang telah dilakukan berbagai instansi dan pemerintah, pada artikel kali ini saya tidak akan mengulas nya satu per satu, kita langsung saja pada upaya terkini pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan dengan membuat kebijakan berkaitan dengan kurikulum yang disebut dengan Outcome Based Education yang dikenal dengan singkatan OBE demi meningkatkan Link and Match antara lulusan perguruan tinggi dengan industri yang membutuhkan. 

Outcome Based Education merupakan konsep pendidikan yang berlandaskan pada hasil yang dicapai. Sebenarnya OBE sudah lama dikenal, bahkan lembaga akreditasi perguruan tinggi di tingkat internasional semuanya mensyaratkan OBE. Namun seperti yang kita ketahui, bukan hal yang mudah melakukan perubahan, semuanya butuh proses dan butuh waktu yang tidak sedikit. Perlu diketahui pada 23 Oktober 2023 lalu, BANPT telah mengeluarkan peraturan baru tentang sistem akreditasi nasional pendidikan tinggi dimana Outcome Based Education telah ditetapkan sebagai bagian dari sasaran mutu akreditasi. Artinya penerapan OBE pada perguruan tinggi semakin dekat di depan mata.

Tentunya tidak akan cukup satu artikel untuk membicarakan tentang Outcome Based Education. Oleh karena itu saya hanya memfokuskan tulisan kali ini pada hubungan antara OBE dengan problem gap yang saya jabarkan di awal artikel. 

Dalam OBE dikenal istilah profil lulusan, contohnya software developer, dan system administrator. Setiap program studi yang menerapkan kurikulum OBE harus mendefinisikan Profil Lulusan (PL). Setiap profil lulusan terdiri dari beberapa Capaian Pembelajaran (CP) yang dibagi menjadi 3 aspek, yaitu: Sikap, Pengetahuan, dan Kemampuan. Salah satu contoh CP pada profil lulusan software developer pada aspek pengetahuan adalah “Menguasai konsep teoritis yang berkenaan dengan aplikasi matematika dan desain algoritma dan pemrograman perangkat lunak yang diperlukan dalam pembangunan perangkat lunak berbasis stand alone maupun client server”. CP pada aspek kemampuan adalah “Mempunyai kemampuan dalam mendefinisikan kebutuhan pengguna atau pasar terhadap kinerja (menganalisis, mengevaluasi dan mengembangkan) algoritma/metode berbasis komputer”

laporan presensi
Baca Juga: Cara Mudah Cetak Laporan Presensi dan Rekap Materi Perkuliahan di eAkademik

Kelulusan mahasiswa pada kurikulum OBE harus berlandaskan pada apa yang dicapai, apakah capaian yang sudah didefinisikan oleh program studi sudah dicapai atau belum? Jika memenuhi kriteria, maka dapat dinyatakan lulus. Dengan demikian lulusan program studi yang salah satu profilnya adalah software developer dapat dipastikan benar-benar mengetahui dan mampu mengerjakan tugas sebagai software developer karena mereka telah mencapai hasil saat mereka berkuliah sesuai dengan yang ditetapkan program studi.

Hal tersebut yang menjadikan lulusan tersebut akan menciptakan Link and Match dengan apa yang dibutuhkan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Coba bandingkan dengan perkuliahan yang tidak menggunakan Outcome Based Education (OBE), dimana tidak ada keharusan mendefinisikan profil lulusan maupun capaian pembelajaran, sehingga hanya sebagian mahasiswa yang benar-benar menyadari terhadap apa yg harus mereka kejar untuk dipelajari dan dikuasai pada perkuliahan.

Kita dapat menarik kesimpulan bahwa tantangan dunia pendidikan tinggi di masa mendatang masih banyak, jarak antara lulusan dan dunia usaha dan dunia industri juga nyata. Namun demikian, upaya-upaya telah dilakukan baik oleh perguruan tinggi sebagai penyelenggara pendidikan maupun oleh pemerintah sebagai pembuat kebijakan. Kebijakan yang menekankan pada konsep dan penerapan kurikulum sangat mempengaruhi kualitas lulusan dan tingkat keterserapannya di dunia kerja. Tak ketinggalan pula, eCampuz sebagai penyedia solusi perguruan tinggi berkomitmen untuk terus mengikuti perkembangan dunia pendidikan di Indonesia dan terus berupaya melakukan yang terbaik dalam memberikan solusi bagi perguruan tinggi untuk bersinergi turut andil dalam meningkatkan Link and Match di masa mendatang.

 

Sebuah pemikiran dari Muhammad Rabiul Akhirin