New Normal yang beberapa waktu lalu digaungkan oleh pemerintah, kini telah mengalami penyesuaian menjadi Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Hal ini tak lepas dari banyaknya salah kaprah implementasi dalam kehidupan sehari-hari. Terutama bagi para tenaga pendidik  dan pegawai yang memiliki tanggung jawab untuk terus memberikan layanan pembelajaran bagi mahasiswa. AKB merupakan hal mutlak yang harus segera dilakukan. Institusi perguruan tinggi juga terus dituntut menghadirkan fasilitas-fasilitas baru demi terciptanya kebiasaan baru, tanpa menghilangkan esensi tanggung jawab tiap personil.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMDIKBUD) melalui Sekretaris Jenderal, mengeluarkan Surat Edaran Nomor 20 Tahun 2020 tentang Sistem Kerja Pegawai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Tatanan Normal Baru. Di dalamnya tertera beberapa hal seperti berikut

  1. Pimpinan unit kerja agar melakukan hal-hal yang dapat mendukung tatanan normal baru, mengenai
    1. Penyesuaian Sistem Kerja
    2. Penilaian Kinerja
    3. Pemantauan dan Pengawasan
    4. Disiplin Pegawai
    5. Dukungan Infrastruktur
  2. Penerapan protokol kesehatan dalam melaksanakan tugas kedinasan dari kantor, dan
  3. Penerapan protokol bagi perjalanan dinas

Bagi tenaga pendidik dan pegawai tentunya sudah teredukasi dengan baik mengenai Surat Edaran tersebut. Kini fokus mengarah pada penerapannya, Bagaimana cara institusi mengetahui tingkat kehadiran dosen dan pegawai? Padahal kehadiran merupakan hal paling krusial untuk mengukur Sasaran Kinerja Pegawai (SKP). Sementara, penggunaan satu alat untuk beramai-ramai kini tengah dihindari (fingerprints, pulpen dan buku untuk presensi manual).

Diperlukan sebuah sistem informasi berbasis online-web untuk memudahkan proses presensi tenaga pendidik dan pegawai di perguruan tinggi melalui piranti milik pribadi. Selain itu, dapat menghasilkan laporan secara real-time dan terstruktur. ePresensi dari eCampuz, mampu menangani tantangan tersebut.

Kapabilitas yang dihadirkan ePresensi

  1. Dilakukan secara daring sehingga meminimalisir kontak terhadap fasilitas umum. (fingerprints, RFID terkoneksi dengan pintu, mesin absen kartu, dan buku presensi)
  2. Presensi dapat dilakukan dari berbagai lokasi maupun lokasi yang ditentukan oleh perguruan tinggi (tergantung kebijakan masing-masing instansi). 
  3. Dapat dipantau secara real-time dan terstruktur.
  4. Memudahkan dan mempersingkat waktu pelaporan data presensi. Karena data terdokumentasi secara digital.
  5. Tidak ada biaya tambahan untuk pengadaan dan pemeliharaan alat. Karena presensi dapat dilakukan melalui gawai pribadi.
  6. Integrasi yang mudah.

Jika kita berbicara mengenai kapabilitas, pastilah semua sistem presensi daring kini menghadirkan kemampuan untuk beradaptasi dengan pandemi. Namun, perlu kita telaah lebih jauh apakah cocok dengan AKB masing-masing institusi. Untuk itu, tim eCampuz menghadirkan demo Sistem Informasi ePresensi yang dapat dijajal tanpa perlu repot. Merasakan langsung pengalaman penggunaannya, tanpa biaya tambahan, dan tanpa setup. Silakan langsung meluncur ke http://bit.ly/e-Presensi